Home » » Konsep Kalimat

Konsep Kalimat


A. Pengertian Kalimat

Dalam pandangan kaum aliran gramatikal yang menganggap tata bahasa sebagai subsistem yang berhierarki, kalimat merupakan salah satu satuan yang tetap terikat pada satuan yang lebih besar.

Kalimat merupakan bagian bahasa yang mengandung suatu pilihan atau pesan yang lengkap. Team yayasan pendidikan Haster ( 1997 : 70 ) menguraikan bahwa bentuk bahasa lisan, kalimat merupakan deretan bunyi bahasa yang lengkap dengan lagu, jangka waktu dan perhitungan ; dalam bahasa tulis kalimat merupakan deretan huruf atau kata yang dimulai dengan huruf besar dan diakhiri dengan tanda titik (.) tanda Tanya (?), atau tanda seru (!). kalimat ini secara relative mempunyai kemungkinan berdiri sendiri, mempunyai intonasi [ mal, serta secara actual dan potensial terdiri atas unsur klausa.



Alwi dkk. (2000: 311) mengatakan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras, disela oleh jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan, asimilasi bunyi atau pun proses fonologis lainnya; dalam wujud tulisan huruf latin, kalimat dimulai dengan huruf capital dan diakhiri dengan tanda titik (.) tanda Tanya (?) atau tanda (!); di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), titik koma (;), tanda pisah (-), tanda hubung (-), dan spasi. Tanda titik, tanda seru, dan tanda Tanya sepadan dengan intonasi akhir, sedangkan tanda baca lain sepadan dengan jeda. Spasi yang mengikuti tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru melambangkan kesenyapan.

B. Klasifikasi Kalimat

Kalimat dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, antara lain berikut ini:

1) Jumlah dan Jenis Klausa yang Terdapat pada Pola Dasar Kalimat

Dipandang dari segi jumlah dan jenis klausa yang terdapat pada pola dasar, kalimat dapat di beda seperti berikut ini.

a) Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari klausa bebas dan tanpa klausa terikat. Selanjutnya, Cook (Dalam Tarigan, 1994: 57) mengemukakan bahwa klausa bebas tersebut mungkin bersubjek tunggal atau bersubjek ganda, mungkin berpredikat tunggal atau berpredikat gabung, serta mungkin pula berpelengkap tunggal atau berpelengkap gabung.

Sebuah kalimat masih dianggap kalimat tunggal walaupun unsur-unsurnya diperluas misalnya, pakaian suaminya yang telah robek ditambal dengan rapi. Kalimat tunggal tersebut dapat dikembalikan pada kalimat tunggal sederhana tanpa keterangan pada subjek dan predikat, seperti pakaian ditambalnya.

b) Kalimat Bersusun

Kalimat tersusun adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa utama atau domain clause ditambah satu klausa terikat di dalamnya, apakah sebagai subjek pelengkap, keterangan, ataukah sebagai pewatas subordinate clause atau lebih (Palombara dalam Tarigan, 1994: 57). Begitu juga batas yang dikemukakan oleh Cook ( dalam Tarigan, 1994: 6). Namun ada sedikit perbedaan antara klausa utama yang dimasukkan klausa terikat di dalamnya, apakah sebagai subjek pelengkap, keterangan ataukah sebagai pewatas misalnya, sesudah saya makan, ia datang atau ia datang sesudah saya makan.

c) Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki lebih dari satu klausa yang kedudukan klausa-klausanya sederajat atau setara dan dapat pula bertingkat.

2) Berdasarkan Struktur Internal Klausa Utama

Dipandang dari segi Struktur internal klausa utamanya, kalimat dapat dibedakan seperti berikut ini :

a) Kalimat Sempurna

Kalimat Sempurna adalah Kalimat yang dasarnya terdiri dari sebuah klausa bebas (Cook, dalam Tarigan 1994: 7) karena yang mendasari Kalimat Sempurna ini mencakup Kalimat tunggal, kalimat bersusun dan kalimat majemuk.

b) Kalimat tak Sempurna

Kalimat tak Sempurna adalah kalimat yang dasarnya terdiri dari sebuah klausa terikat, atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa (Tarigan, 1994: 8). Kalimat tak Sempurna ini mencakup kalimat- Kalimat urutan, sampingan, elips, jawaban, seruan, dan minor.

3) Berdasarkan Jenis Responsi yang diharapkan

Dipandang dari segi jenis responsi yang diharapkan, kalimat dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

a) Kalimat pernyataan (Deklaratif)

Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu (Cook dalam Tarigan, 1994: 8-9).

Kalimat Deklaratif dapat berupa bentuk apa saja, asalkan isinya merupakan pemberitahuan atau pernyataan. Dalam bentuk tulisan kalimat deklaratif diakhiri dengan tanda titik, sedangkan dalam bentuk lisan akhir kalimat ini diucapkan dengan nada turun.

b) Kalimat Pertanyaan (Introgatif)

Pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa jawaban (Cook dalam Tarigan, 1994: 8-9).

c) Kalimat perintah (Imperatif)

Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Cook dalam Tarigan, 1994: 9). Jika kita menginginkan orang lain melakukan suatu perbuatan kita dapat menggunakan kalimat imperative (Kalimat suruhan/kalimat perintah). Pada bahasa tulis, kalimat ini diakhiri dengan tanda seru (!) jika perintah tersebut bersifat lemah, tanda seru boleh tidak digunakan. Misalnya: kirimkan surat ini, tolong kirimkan surat ini (Tarigan, 1994:146).

Rahardi (2000: 77) mengemukakan bahwa kalimat imperative adalah kalimat yang yang mengandung maksud memerintah atau memintah agar mitra tutur melakukan sesuatu sebagaimana diinginkan si penutur.

4) Berdasarkan Sifat Hubungan Aktor- Aksi

Dipandang dari segi sifat hubungan actor-aksi, kalimat dapatlah kita bedakan sebagai berikut.

a) Kalimat Aktif

Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya aktif melakukan tindakan atau pekerjaan atau dengan kata lain ialah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku atau actor, misalnya, Adiknya sedang makan di dalam kamar (Cook dalam Tarigan, 1994:9).

b) Kalimat Pasif

Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai atau menderita suatu perbuatan atau tindakan. Dengan kata lain, kalimat pasif ialah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita, misalnya, kue itu di makan oleh adik (Cook dalam Tarigan, 1994: 10).

c) Kalimat Medial

Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita. Misalnya: Aku mengamati mukaku (Cook dalam Tarigan, 1994: 10).

d) Kalimat Resiprokal

Kalimat resiprokal adalah kalimat yang subjeknya dan objeknya melakukan sesuatu perbuatan yang berbalas-balasan (Cook dalam Tarigan, 1994:10).

3 comment:

Poskan Komentar