Thursday, January 14, 2010

Format Teks di Plurk

Berikut ini beberapa format teks yang dapat anda gunakan di Plurk :
  • Cetak Miring (Italic) : ketik 1 tanda bintang diantara teks, contoh *ridersystem*
  • Cetak Tebal (Bold) :  ketik 2 tanda bintang diantara teks, contoh **ridersystem** 
  • Bergaris Bawah (Underline) : ketik 2 tanda undercross diantara teks,  contoh   ridersystem   
  • Link : ketik saja URL secara lengkap, Plurk akan mengubahnya menjadi hyperlink
  • Link dengan Teks : ketik URL dengan lengkap ditamabah teks dalam tanda kurung, contoh http://rider-system.net (My Blog)
  • Teks Mesin Ketik : ketik 1 tanda backtik (`) diantara teks, contoh `ridersystem`
Selamat NgePlurk
Harap add saya di http://www.plurk.com/ridersystem
Continue Reading...

Sunday, December 20, 2009

Radiasi

Pada siang hari kita dapat merasakan panas matahari. Dimana matahari termasuk salah satu bintang karena memancarkan radiasinya sendiri. Matahari memiliki suhu rata-rata di permukaan sebesar 6000 C. Sangat panas bukan? Tapi bagaimana caranya kita bisa mengetahui suhu matahari atau bintang? Bisakah kita mengukur suhunya tersebut secara langsung? Hingga saat ini  manusia belum mampu pergi kesana dan mengukur suhu matahari atau bintang dengan termometer. Sebenarnya para ahli mempunyai metode khusus dalam menentukan suhu sebuah bintang. Kamu juga bisa memperkirakan setelah belajar radiasi benda hitam.

Apabila kita berada di dekat api yang membara, kita akan merasakan panas. Ini berarti benda tersebut memancarkan kalor sekelilingnya. Radiasi bara atau radiasi kalor matahari yang letaknya berjuta-juta kilometer masih terasa sampai ke bumi meskipun antara bumi dan matahari terdapat ruang hampa. Ini berarti energi yan dipancarkan oleh matahari dan tentu saja bara bagi setiap benda tadi berupa gelombang elektromagnetik pada spectrum yang terlihat (cahaya tampak) dan spectrum yang tidak sensitif ke mata antara lain inframerah. Masih ingatkah bahasan gelombang elektromagnetik di kelas X? Salah satu sifat gelombang elektromagnetik ialah dapat merambat melalui ruang hampa melibatkan osilasi medan listrik dan medan magnet yang saling tegak lurus.

Semakin besar suhu suatu benda, semakin besar pula energi yang diradiasikannya. Para ahli menemukan bahwa  energi yang diradiasikan per sekon oleh sebuah benda berpijar sebanding dengan pangkat empat suhu benda tersebut dalam Kelvin. Selain itu, energi yang dipancarkan juga sebanding dengan luas benda yang berpijar. Bukankah akan terasa lebih panas jika kamu berada dekat rumah yang terbakar dibandingkan jika berdekatan dengan arang yang dibakar? Besarnya laju energi (energi persatuan waktu) yang dipancarkan oleh benda yang luasnya A dan suhu benda T Kelvin adalah,



Dengan,
P = daya radiasi (W)
Q = energi kalor (J)
t = waktu (s)
T = suhu mutlak permukaan benda (K)
A = luas permukaan benda (m )
    = konstanta Stefan Boltzman (5,67 x 10  W/m )
e = emisivitas benda

Persamaan inilah yang dinamakan persamaan Stefan Boltzmann. Faktor e dinamakan emisivitas yang mempunyai nilai antara 0 hingga 1. Benda yang mempunyai e mendekati 1 disebut juga sebagai benda hitam, sedangkan benda yang mengkilap mempunyai nilai mendekati nol. Benda dengan nilai e = 1 dianggap sebagai benda hitam sempurna karena dapat menyerap semua energi kalor yang datang dan memancarkan energi kalor dengan sempurna juga. Walaupun demikian, perlu diingat bahwa benda hitam sempurna hanyalah proses idealisasi karena kenyataannya tidak ada benda yang bersifat hitam sempurna.
Continue Reading...

Tuesday, December 15, 2009

Enzim

Enzim berasal dari bahasa Yunani yang artinya di dalam sel. Enzim adalah protein yang tersusun oleh untaian asam amino yang panjang, dimana antara yang satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan ikatan peptida. Enzim terdapat dalam semua sel makhluk hidup dan mengerjakan proses yang vital, mengatur proses metabolisme. Enzim adalah protein yang merupakan katalisator untuk reaksi-reaksi kimia pada sistem biologi. Sebagian reaksi kimia sel-sel hidup akan berlangsung sangat lambat bila reaksi tersebut tidak dikatalis oleh enzim. Berbeda dengan katalisator nonprotein, tiap-tiap enzim mengkatalis sejumlah kecil reaksi, kerap kali hanya satu. Jadi enzim adalah katalisator untuk reaksi yang spesifik. Pada hakekatnya semua reaksi biokimia dikatalis oleh enzim.

Kemampuan enzim untuk mengkatalis satu reaksi spesifik dan pada hakekatnya tidak mengkatalis reaksi lain, hal ini merupakan sifat enzim yang paling utama. Kecepatan metabolik enzim, akan tetapi sebagian besar enzim dapat mengkatalis jenis reaksi yang sama (pemindahan fosfat, oksidasi-reduksi, dsb) dengan substrat yang strukturnya mempunyai hubungan satu sama lain.

Dari beberapa uraian di atas maka dapat dituliskan bahwa sifat-sifat umum enzim adalah (Yunita, 2006) :
  1. Enzim berfungsi menggiatkan atau kadang-kadang memulaikan suatu proses Enzim bekerja secara khusus untuk pengubahan suatu zat tertentu diperlukan enzim tertentu pula
  2. Enzim merupakan suatu protein, yaitu suatu susunan koloid
  3. Banyak enzim dapat bekerja bolak-balik
  4. Enzim tidak tahan terhadap temperatur yang agak tinggi. Kegiatan enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Di bawah temperatur maksimum, kenaikan temperatur berarti bertambah giatnya kegiatan enzim. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh pH, konsentrasi, suhu, subsrat, dan inhibitor.
Continue Reading...

Tuesday, October 27, 2009

Mastikasi

A. Definisi dan Fungsi Mastikasi

Definisi mastikasi adalah suatu kompleksitas dari neuromuskular dengan bantuan seluruh fungsi rahang atas, rahang bawah, bersama-sama dengan temporomandibular, lidah, Sircumoral muskular, otot-otot mastikasi, dan gigi.

Pemakaian kata fungsi mastikasi yang tepat dalam literatur-literatur sangat kurang bahkan ‘fungsi mastikasi’ sering digantikan dengan kata ‘kemampuan mengunyah’, ‘efisiensi mengunyah’, atau ‘performans mengunyah’. Carlson mendefinisikan kemampuan mengunyah sebagai suatu kemampuan individu itu sendiri dalam menilai fungsi mastikasi mereka. Bates et al mendefinisikan performans mastikasi sebagai suatu ukuran partikel distribusi makanan pada saat dikunyah.

Adapun fungsi mastikasi adalah memotong dan menggiling makanan, membantu mencerna sellulosa, memperluas permukaan, merangsang sekresi saliva, mencampur makanan – saliva, melindungi mukosa, dan mempengaruhi pertumbuhan jaringan mulut.

B. Proses Mastikasi

Proses mastikasi merupakan suatu proses gabungan gerak antar dua rahang yang terpisah, termasuk proses biofisik dan biokimia dari penggunaan bibir, gigi, pipi, lidah, langit-langit mulut, serta seluruh struktur pembentuk oral, untuk mengunyah makanan dengan tujuan menyiapkan makan agar dapat ditelan. Lidah berfungsi mencegah tergelincirnya makanan, mendorong makanan kepermukaan kunyah, membantu mencampur makanan dengan saliva, memilih makanan yang halus untuk ditelan, membersihkan sisa makanan, membantu proses bicara dan membantu proses menelan. Pada waktu mengunyah kecepatan sekresi saliva 1.0 – 1.5 liter/hari, pH 6 – 7.4. Saliva berfungsi mencerna polisakarida, melumatkan makanan, menetralkan asam dari makanan, melarutkan makanan, melembabkan mulut dan anti bakteri. Pada proses mastikasi terjadi beberapa stadium antara lain stadium volunter dimana makanan diletakkan diatas lidah kemudian didorong ke atas dan belakang pada palatum lalu masuk ke pharynx, di mana hal ini dapat dipengaruhi oleh kemauan. Selanjutnya pada stadium pharyngeal bolus pada mulut masuk ke pharynx dan merangsang reseptor sehingga timbul refleks-refleks antara lain terjadi gelombang peristaltik dari otot-otot konstriktor pharynx sehingga nafas berhenti sejenak. Proses ini sekitar 1 – 2 detik dan tidak dipengaruhi oleh kemauan. Kemudian pada stadium oesophangeal terjadi gelombang peristaltik primer yang merupakan lanjutan dari gelombang peristaltik pharynx dan gelombang peristaltik sekunder yang berasal dari dinding oesophagus sendiri. Proses ini sekitar 5 – 10 detik dan tidak dipengaruhi oleh kemauan. Setelah melalui proses ini makanan siap untuk ditelan.

C. Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Fungsi Mastikasi

1. Kehilangan Gigi
Gigi merupakan organ manusia yang terpenting. Tanpa gigi, manusia tidak dapat mencerna makanan. Gigi berfungsi untuk mengunyah setiap makanan yang masuk ke dalam mulut untuk diteruskan ke dalam tubuh manusia, tentunya makanan yang sudah halus. Proses ini akan berlangsung mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa.

Manfaat utama gigi adalah untuk mengunyah beraneka ragam makanan yang tekstur dan nilai gizinya berbeda-beda. Dengan terjadinya kehilangan gigi maka menurunlah efisiensi pengunyahan. Kehilangan gigi merupakan penyebab terbanyak menurunnya fungsi mastikasi, karena berhubungan erat dengan masalah karies dan penyakit-penyakit periodontal. Kehilangan gigi tidak selalu memuaskan dengan adanya kompensasi penggantian gigi palsu karena sering menimbulkan perasaan yang kurang nyaman dari pemakai, sehingga fungsi gigi belum dapat sepenuhnya digantikan oleh gigi tiruan ditinjau dari segi efektifitas dan efisiensinya.

Makanan yang dikonsumsi sebelum masuk lebih dalam menuju alat pencernaan harus melewati mulut. Di rongga mulut ini makanan sudah mulai menjalani proses pencernaan. Kelancaran pengunyahan makanan di dalam rongga mulut bergantung pada kelengkapan susunan gigi. Jumlah gigi geligi yang tidak lengkap akan menurunkan keefektifan fungsi pengunyahan. Belum lagi soal penurunan selera makan yang pada umumnya banyak menghinggapi mereka yang berusia tua. Gangguan fungsi pengunyahan dapat pula disebabkan karena penurunan fungsi dari lidah, mukosa mulut, otot-otot pengunyah, kelenjar ludah, dan sistem susunan saraf.

Sekalipun dengan gigi palsu berkualitas baik, penderita edentulisme tetap mengalami kesulitan dalam mengunyah makanan yang bertekstur keras atau kenyal. Prevalensi edentulisme di Kanada mencapai 17% pada tahun 1990, dan di Amerika Serikat sekarang prevalensinya mencapai 9,7% pada kelompok usia 18 tahun ke atas. Prevalensi keadaan ini meningkat secara dramatis mengikuti pertambahan usia, dan 33,1% bangsa Amerika yang berusia 65 tahun ke atas menderita edentulisme; prevalensi pada kelompok usia inilah yang paling banyak terserang, dan kelompok usia ini paling banyak menampakkan akibat fisik yang ditimbulkan oleh keadaan tersebut.

Lebih lanjut, kelompok lansia akan menjadi bagian terbesar dari jumlah total populasi dikarenakan terus berkembangnya generasi baby boomer dimana angka kelahiran lebih tinggi daripada angka kematian bayi pada tahun tersebut. Sebagai contoh, pada tahun 1998 Thompson dan Kreisel meramalkan peningkatan populasi tua di Kanada sebesar 36,5% hingga pada tahun 2015. Meskipun peningkatan mutu layanan kesehatan beserta peningkatan dalam hal frekuensi pemanfaatannya belakangan ini telah dapat menurunkan laju pertambahan jumlah edentulisme, bertambahnya jumlah populasi lansia diperkirakan akan dapat meningkatkan kebutuhan akan beragam bentuk layanan kesehatan mulut.

2. Penyakit Dalam Rongga Mulut
Berbagai macam unsur fisik terlibat dalam proses makan khususnya unsur-unsur dalam rongga mulut, bibir, gigi geligi, langit-langit, lidah, dan tenggorokan; sistem saraf dan otak; sistem hormonal/endokrin, dan enzim yang berkaitan dengan penerimaan makanan dan proses metabolisme tubuh.

Oleh karena itu, jika terdapat kelainan atau penyakit pada unsur-unsur organik tersebut, pada umumnya akan disertai dengan terdapatnya gangguan/kesulitan mengunyah.

Adapun kelainan/penyakit pada gigi geligi dan unsur-unsur lain dalam rongga mulut, yaitu :
1. Kelainan bawaan
Labioschizis (bibir sumbing), frenulum lidah pendek, makroglosia, dll.
2. Penyakit infeksi
Stomatitis, gingivitis, tonsilitas, dll.
3. Kelainan/Penyakit Neuromuskuler
Paresis/paralisis lidah dan otot-otot sekitar pharynx dan larynx.
4. Penyakit/kelainan non infeksi
a) Penyakit bawaan di luar rongga mulut dan saluran cerna :
Penyakit jantung bawaan, Sindroma Down
b) Penyakit Neuromuskuler :
Palsi serebral

3. Faktor Psikologis
Selain karena faktor fisik, masalah gangguan fungsi mastikasi juga disebabkan karena proses perkembangan selera dan kemampuan makan yang berkembang sejalan dengan perkembangan organ-organ fisik termasuk sistem pencernaan. Disinilah sering timbul masalah sulit makan yang kerap kali dibarengi dengan gangguan psikologis.

Gangguan psikologis dapat timbul karena kompleksitas masalah kehidupan yang dihadapi dan kerap kali terus dipikirkan sehingga mempengaruhi selera makan dan kegiatan mengunyah pada saat makan. Pada umumnya seseorang dengan gangguan psikologis, makanan yang mereka telan kurang sempurna pengunyahannya, sehingga sistem pencernaanlah yang akan memperbaiki pengunyahan makanan yang tidak lengkap dalam mulut.
Continue Reading...

Friday, October 16, 2009

Detonasi pada Motor Diesel

Jika Ignition Delay (waktu pembakaran tertunda) terlalu panjang atau jika jumlah penguapan pada saat ini terlalu banyak, maka jumlah campuran yang dapat terbakar pada saat permabatan api terlalu banyak, sehingga menyebabkan kenaikkan tekanan didalam silinder sangat tinggi, hal ini akan mengakibatkan timbulnya bunyi dan getaran. Peristiwa diatas sering disebut Diesel Knock (detonasi).

Untuk mencegah terjadinya Diesel Knock, perlu dicegah kenaikan tekanan yang tiba-tiba, yaitu untuk membuat campuran yang mudah terbakar pada temperatur yang rendah, memperpendek waktu pembakaran tertunda, atau mengurangi jumlah bahan bakar yang diinjeksi selama waktu pembakaran tertunda.

Berikut ini cara-cara untuk mengatasi detonasi :
  • Menggunakan bahan bakar dengan angka octan yang tinggi.
  • Menaikkan temperatur udara dan tekanan pada saat awal injeksi.
  • Mengurangi jumlah injeksi pada saat awal injeksi.
  • Menaikkan temperatur pada ruang bakar (khusus pada daerah injeksi)
Perbedaan-perbedaan dalam cara mencegah terjadinya detonasi seperti dibawah ini:








ITEM MOTOR DIESEL MOTOR BENSIN
Perbandingan kompresi Ditinggikan Direndahkan
Putaran mesin Ditinggikan Direndahkan
Temperatur udara masuk Ditinggikan Direndahkan
Tekanan udara masuk Ditinggikan Direndahkan
Titik nyala bahan bakar Rendah Tinggi
Waktu pembakaran tertunda Diperpendek Diperpanjang


Continue Reading...
 

Amazon Deals

Comersial Break

Rider System Copyright © 2009